Oleh: abahdzaki | Oktober 2, 2009

Taqaballahu minna wa minkum

Kalimat tersebut sering kita ucapkan ketika bertemu dengan teman atau handai tolan selama bulan syawal. Yang saya tahu perkataan tersebut berdasarkan atsar sahabat, jadi bukan hadist yang bersambung kepada Rasulullah shalallahu’alaihiwasalam.
Sebenarnya saya malu kalau ada ikhwan yang mengucapkan kalimat tersebut kepada saya, karena secara makna kalimat yang berbahasa Arab tersebut adalah “Semoga Allah menerima amal-amal kita (selama Ramadhon)”. Tentu saja ini do’a yang baik kepada sesama muslim, namun saya merasa ibadah yang saya lakukan belum seberapa dibandingkan dengan ibadah para teladan kita. Kalau para salaf menghabiskan waktu malamnya dengan shalat malam dan tadarus, kalau kita, shalat tarawih satu jam saja sudah gelisah, Ini Imam lama banget baca surat yaaa? Kalau para salaf bisa mengkhatamkan Alqur’an beberapa kali, kalau kita……….? Para salaf dahulu bisa meninggalkan semua aktifitas keduniaan 10 hari terakhir untuk i’tiqaf dan menggapai lailatul qadar, mereka tidur di Masjid, sedikit memejamkan mata, kalau kita melakukan ‘itiqaf hanya di sebagian waktu luang, itupun kalau hari libur. Belum lagi kita lebih sibuk dengan acara berbuka bersama, beli pakaian baru, membuat kue dan sibuk mempersiapkan mudik… Inilah perbedaannya salafuna dengan kita. Maka wajar mereka saling mendo’akan “Taqaballahu minna wa minkum”
Ya, mungkin biarpun sedikit amal kita kita tetap berharap Allah menerima amal-amal kita di Ramadhon kemarin (1430H).


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.